|
Lithius Malfoy
|
 |
« on: August 05, 2007, 04:28:00 am » |
|
Master template: desk-tea and Ambudaff Editor: Amanda and TMR
Chapter 5 Fallen Warrior Pejuang yang Gugur
“Hagrid?”
Harry memaksa dirinya untuk bangun dan melepaskan diri dari reruntuhan logam dan kulit yang menutupinya. Tangannya terendam beberapa senti di dalam air berlumpur saat ia mencoba untuk berdiri. Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba Voldemort menghilang dan berharap kegelapan ini segera hilang. Sesuatu yang panas dan basah mengalir dari dahi ke pelipisnya. Ia merangkak keluar dari kolam dan berusaha untuk mendekati Hagrid yang tampak seperti gundukan hitam besar di atas tanah.
“Hagrid? Hagrid, bicaralah padaku…”
Tapi gundukan itu diam saja.
“Siapa di sana? Apakah itu kau, Potter? Kaukah Harry Potter?”
Harry tidak mengenali suara pria itu. Lalu terdengar suara teriakan seorang wanita, “Mereka menabrak, Ted! Mereka di kebun!”
Kepala Harry basah.
“Hagrid,” ulang Harry, lututnya tersangkut.
Hal selanjutnya yang ia ingat adalah ia sedang tertidur di atas sesuatu yang empuk. Dada dan tangan kanannya terasa terbakar. Giginya yang patah sudah tumbuh kembali. Bekas lukanya masih terasa menyakitkan.
“Hagrid?”
Ia membuka mata dan melihat dirinya sedang berbaring sofa di sebuah ruang duduk yang tidak ia kenal. Ranselnya tergeletak di lantai tak, basah dan penuh lumpur. Seorang pria berperut tambun sedang melihat Harry penuh rasa khawatir.
“Hagrid baik-baik saja, nak,” kata pria itu, “istriku sedang merawatnya. Bagaimana keadaanmu? Ada yang patah? Aku telah menyembuhkan tulang iga, tangan, dan gigimu. Aku Ted, Ted Tonks, ayah Dora.”
Harry duduk terlalu mendadak membuat matanya berkunang-kunang dan membuatnya merasa pusing.
“Voldemort…”
“Tenang,” kata Ted Tonks, sambil menyuruh Harry kembali untuk berbaring. “Kau baru saja mengalami tabrakan hebat tadi. Apa yang terjadi? Apa ada yang salah dengan sepeda motornya? Apa Arthur Weasley terlalu memaksa dirinya dengan alat-alat Muggle itu?”
“Tidak,” kata Harry, bekas lukanya mulai berdenyut lagi. “Pelahap Maut, begitu banyak, mereka mengejar kami…”
“Pelahap Maut?” tanya Ted tajam. “Apa maksudmu? Aku pikir mereka tidak tahu bahwa kau akan dipindahkan malam ini.”
“Mereka tahu,” kata Harry.
Ted Tonks melihat langit-langit seakan-akan ia bisa langsung melihat langit.
“Kalau begitu, perlindungan kami telah berhasil mencegah mereka, kan? Mereka tidak bisa mendekati rumah ini dalam jarak ratusan meter dari berbagai arah.”
Sekarang Harry tahu mengapa Voldemort tiba-tiba menghilang. Ia telah berhasil masuk ke dalam area perlindungan. Sekarang ia hanya berharap kalau mantra perlindungan itu cukup kuat. Karena saat ini ia bisa membayangkan Voldemort, beratus-ratus meter jauhnya, sedang mencari cara untuk masuk ke dalam sesuatu yang Harry bayangkan seperti sebuah gelembung transparan yang sangat besar.
Harry mencoba untuk berdiri. Ia harus melihat Hagrid dengan mata kepalanya sendiri sebelum ia percaya kalau Hagrid masih hidup. Saat ia hampir berdiri, pintu tiba-tiba membuka dan Hagrid mencoba melewatinya. Wajahnya penuh lumpur dan darah, sedikit terpincang, tapi tetap hidup.
“Harry!”
Hanya butuh dua langkah besar bagi Hagrid untuk menyebrangi ruangan dan menarik Harry ke dalam pelukannya dan hampir mematahkan tulang iganya yang baru saja di sembuhkan. “Ya ampun, Harry, bagaimana kau bisa menghadapi mereka semua? Aku pikir kita akan mati.”
“Aku juga. Aku tak bisa percaya…”
Harry terdiam. Ia baru mengenali seorang wanita yang ada di belakang Hagrid.
“Kau!” teriak Harry sambil mencoba meraih sesuatu di kantungnya tapi tidak ada.
“Tongkatmu ada di sini, nak,” kata Ted, menyerahkan tongkat Harry. “Tadi terjatuh, dan aku memungutnya. Dan kau baru saja berteriak pada istriku.”
“Oh, aku, aku minta maaf.”
Saat wanita itu mendekati mereka, terlihat kemiripan Mrs. Tonks dengan saudarinya Bellatrix. Namun rambutnya berwarna coklat lembut, matanya lebih lebar, dan tampak lebih ramah. Tapi ia terlihat sedikit terkejut setelah diteriaki Harry.
“Apa yang terjadi dengan putri kami?” tanyanya. “Hagrid bilang tadi kalian diserang. Di mana Nymphadora?”
“Aku tidak tahu,” kata Harry. “Kami tidak tahu bagaimana keadaan yang lain.”
Ted dan istrinya bertukar pandang. Rasa takut dan bersalah bercampur dalam dada Harry. Bila ada yang meninggal, itu adalah kesalahannya, semua adalah salahnya. Ia telah menyetujui rencana itu dan memberikan rambutnya…
“Portkey,” tiba-tiba Harry teringat. “Kami harus ke the Burrow dan mencari tahu. Nanti akan langsung kami kabari begitu Dora…”
“Dora akan baik-baik saja. Dia tahu apa yang dia kerjakan. Dia sudah sering melakukan ini bersama para Auror. Kemarilah,” tambah Ted. “Kalian akan berangkat dalam waktu tiga menit.”
“Baiklah,” kata Harry. Ia mengambil ranselnya dan menyandangnya di pundak. “Aku…”
Ia melihat Mrs. Tonks ingin meminta maaf atas segala hal yang terjadi, ia merasa bertanggung jawab. Tapi tidak satu kata pun keluar.
“Aku akan beritahu Tonks – Dora – untuk mengabari kalian, saat dia… terima kasih sudah menolong kami, terima kasih untuk segalanya. Aku…”
Harry merasa lega saat ia meninggalkan ruangan itu dan mengikuti Ted Tonks menuju kamar tidur. Hagrid berada di belakangnya, menunduk dalam-dalam agar tidak terantuk kusen pintu.
“Itu Portkey-nya, nak.”
Mr. Tonks menunjuk sebuah sisir kecil berwarna keperakan yang ada di atas meja rias.
“Terima kasih,” kata Harry, yang langsung menyentuhkan jarinya, siap untuk berangkat.
“Dia… dia kena,” kata Harry.
Teringat sesaat ledakan itu membuatnya merasa bersalah dan setitik air mata ada di ujung matanya. Hedwig telah menjadi kawannya, ia adalah penghubungnya dengan dunia sihir saat ia kembali ke rumah keluarga Dursley.
Hagrid menepuk-tepuk tangannya yang besar ke pundak Harry.
“Tidak apa-apa,” katanya muram. “Tidak apa-apa. Dia telah hidup cukup lama…”
“Hagrid!” Ted Tonks mengingatkan. Sisirnya mulai bercahaya biru terang dan Hagrid langsung menyentuhkan jarinya.
Sentakan dari belakang mengangkat mereka seperti kaitan yang tak terlihat, membuat Harry berputar tak terkendali. Jarinya menempel di Portkey saat ia meninggalkan rumah keluarga Tonks. Sedetik kemudian ia terlempar ke tanah yang keras dengan tangan dan lutut menyentuh halaman the Burrow terlebih dulu. Ia mendengar teriakan. Harry berdiri dan berjalan perlahan, dan melihat Mrs. Weasley dan Ginny yang berlari keluar dari pintu belakang. Hagrid yang juga terjatuh saat mendarat, berusaha berdiri di atas kakinya.
“Harry? Apakah kau benar-benar Harry? Apa yang terjadi? Mana yang lain?” teriak Mrs. Weasley.
“Apa maksudmu? Apa belum ada yang kembali?” kata Harry.
Jawabannya sudah jelas saat ia melihat wajah pucat Mrs. Weasley.
“Pelahap Maut sudah menunggui kami,” Harry menceritakan. “Kami langsung dikelilingi sesaat setelah kami berangkat – mereka tahu tentang malam ini – aku tidak tahu apa yang terjadi pada yang lain. Empat di antaranya mengejar kami saat kami berhasil menjauhkan diri, dan Voldemort berhasil menemukan kami…”
Harry dapat mendengar jelas nada pembelaan dalam ceritanya, sebuah alasan mengapa ia tidak tahu bagaimana keadaan yang lain.
“Syukurlah kau baik-baik saja,” Mrs. Weasley langsung memberikan pelukan yang Harry anggap ia tidak pantas dapatkan.
“Punya sdikit brandy, Molly?” tanya Hagrid yang gemetaran. “Tuk tujuan pengobatan?”
Ia bisa saja mengambilnya dengan shir, tapi ia berlari masuk ke rumah. Harry tahu kalau Mrs. Weasley ingin menyembunyikan perasaannya. Harry melihat Ginny yang langsung memberinya berita.
“Ron dan Tonks harusnya kembali pertama, tapi mereka terlambat mencapai Portkey,” katanya sambil menunjuk kaleng berkarat tak jauh dari sana. “Dan itu,” ia menunjuk sepatu tua, “harusnya ayah dan Fred menjadi yang kedua. Kau dan Hagrid yang ketiga, dan” Ginny melihat jamnya, “jika mereka berhasil, George dan Lupin akan kembali semenit lagi.”
Mrs. Weasley muncul sambil membawa sebotol brandy yang langsung diserahkannya ke Hagrid. Hagrid membuka tutupnya dan langsung menghabiskannya dalam sekali minum.
“Mum!” teriak Ginny sambil menunjuk sebuah titik.
Cahaya kebiruan muncul dari kegelapan yang makin besar dan makin terang. Lupin dan George muncul, berputar lalu terjatuh. Harry melihat sesuatu yang tidak baik. Lupin membopong George yang tidak sadarkan diri dan darah menutupi wajahnya. Harry berlari dan membantu mengangkat kaki George. lupin dan Harry membawa George masuk ke dalam rumah melalui dapur dan meletakkannya di sofa di ruang duduk. Saat cahaya lampu menerangi George, Ginny terperangah dan perut Harry terasa terpelintir. George kehilangan satu telinganya. Kepala dan lehernya basah, dibanjiri darah segar.
Mrs. Weasley langsung berlutut di sebelah putranya saat Lupin memegang tangan Harry dan menariknya kasar, membawanya kembali ke dapur, di mana Hagrid masih terjebak di pintu.
“Oi!” kata Hagrid marah. “Lepaskan Harry! Lepaskan dia!”
Lupin tidak peduli.
“Makhluk apa yang ada di pojok ruangan saat Harry Potter masuk ke dalam kantorku di Hogwarts?” tanyanya sambil menggoncang Harry. “Jawab!”
“Grind-grindylow dalam tank.”
Lupin melepaskan cengkeramannya dan jatuh bersandar di lemari dapur.
“Apa itu tadi?” teriak Hagrid.
“Maaf Harry, tapi aku harus memastikan,” kata Lupin. “Ada pengkhianat di antara kita. Voldemort tahu kau dipindahkan malam ini dan orang yang bisa membocorkannya adalah orang yang menjemputmu. Bisa saja kaulah penipu itu.”
“Mengapa kau tidak memastikan aku?” tanya Hagrid yang masih berusaha keluar dari pintu.
“Kau setengah-raksasa,” kata Lupin sambil melihat Hagrid. “Ramuan Polyjus didesain khusus untuk manusia.”
“Rasanya tidak mungkin salah satu dari anggota Orde yang akan membocorkannya pada Voldemort,” kata Harry. Gagasan itu begitu mengejutkan, Harry memercayai mereka semua. “Voldemort mengejarku sesaat kami hampir tiba, dia tidak mengenaliku pada awalnya. Kalau orang itu tahu rencana kita, tentu Voldemort tahu bahwa aku pergi bersama Hagrid.”
“Voldemort mengejarmu?” tanya Lupin tajam. “Apa yang terjadi? Bagaimana kau bisa lolos?”
Harry meringkas ceritanya, bagaimana seorang Pelahap Maut mengenalinya, bagaimana mereka meninggalkan pengejaran dan memanggil Voldemort, dan bagaimana mereka semua muncul sesaat Harry berhasil mencapai rumah orang tua Tonks.
“Mereka mengenalimu? Tapi bagaimana mungkin? Apa yang telah kau lakukan?”
“Aku…” Harry berusaha untuk mengingat perjalanan yang membingungkan dan penuh rasa panik tadi. “Aku melihat Stan Shunpike… kau tahu, kondektur Bus Ksatria? Aku mencoba melucuti senjatanya. Sepertinya dia tidak tahu apa yang dia lakukan, dia pasti di bawah Mantra Imperius!”
Lupin terperanjat.
“Harry, masa melucuti senjata sudah lewat! Orang-orang ini berusaha menangkap dan membunuhmu! Paling tidak pingsankan mereka kalau kau tidak ingin membunuh mereka!”
“Kami ada ratusan meter di atas tanah! Dan Stan bukan dirinya sendiri! Bila aku membuatnya pingsan, dia akan jatuh dan mati! Tidak ada bedanya bila aku memakai Avada Kedavra! Expelliarmus telah menyelamatkanku dari Voldemort dua tahun yang lalu,” tambah Harry. Lupin mengingatkan Harry pada Zacharias Smith, anak Hufflepuff, yang mengejek dirinya saat Harry mengajari Laskar Dumbledore Mantra Perlucutan Senjata.
“Tentu saja, Harry,” kata Lupin mengalah, “dan ratusan Pelahap Maut melihatmu melakukannya! Maafkan aku, tapi itu bukanlah mantra yang umum bila kau ada di ujung kematian. Dan kau memakainya lagi di depan para Pelahap Maut yang pernah melihatmu, atau paling tidak mendengarmu, melakukannya di saat kau terancam.”
“Jadi lebih baik bila aku membunuh Stan Shunpike?” kata Harry marah.
“Tentu saja tidak,” kata Lupin, “tapi, para Pelahap Maut, dan banyak orang lain, mengharapkanmu untuk melawan mereka! Expelliarmus adalah mantra yang berguna, Harry. Tapi sepertinya Pelahap Maut menganggap bahwa itu adalah penanda, mantra yang selalu kau pakai. Dan aku ingatkan kau untuk tidak membiarkannya menjadi penandamu.”
Lupin membuat Harry merasa seperti orang idiot tapi Harry masih ingin melawan.
“Aku tidak ingin meledakkan orang yang menghalangi jalanku,” kata Harry. “Itu kerjaan Voldemort.”
Lupin tidak sempat membalas karena Hagrid, yang akhirnya bisa membebaskan dirinya dari pintu, berjalan terhuyung, jatuh terduduk, dan menjatuhi Lupin. Harry langsung bertanya lagi pada Lupin.
“Apakah George akan baik-baik saja?”
Semua kemarahan Lupin tiba-tiba menguap saat mendengar pertanyaan itu.
“Semoga saja. Walau tidak mungkin untuk mengembalikan telinganya, tidak mungkin bila disebabkan oleh kutukan.”
Terdengar suara dari luar. Lupin langsung berlari keluar dari dapur. Harry meloncati kaki Hagrid dan mengekor keluar.
Dua orang telah muncul di halaman dan terlihat Hermione, yang sudah kembali ke bentuk semula, bersama Kingsley, keduanya memegangi gantungan baju. Hermione langsung melingkarkan lengannya untuk memeluk Harry, tapi Kingsley tidak terlihat senang. Melalui bahu Hermione ia melihat Kingsley mengangkat tongkat dan mengarahkannya ke dada Lupin.
“Apa kata-kata terakhir yang Dumbledore katakan pada kita?”
“’Harry adalah harapan kita. Percayalah padanya,’” kata Lupin tenang.
Kingsley mengarahkan tongkatnya pada Harry, tapi Lupin berkata, “Itu memang dia, sudah kuperiksa.”
“Baiklah,” kata Kingsley yang langsung memasukkan tongakatnya ke dalam jubah. “Tapi seseorang berkhianat! Mereka tahu, mereka tahu tentang malam ini!”
“Sepertinya,” jawab Lupin, “tapi sepertinya mereka tidak tahu kalau akan ada tujuh orang Harry.”
“Untung sekali,” kata Kingsley geram. “Siapa saja yang sudah kembali?”
“Hanya Harry, Hagrid, George, dan aku.”
Hermione terperanjat dan mengatupkan tangan menutupi mulutnya.
“Apa yang terjadi pada kalian?” tanya Lupin pada Kingsley.
“Diburu lima Pelahap Maut, berhasil melukai dua orang, dan mungkin membunuh seorang,” kata Kingsley sambil terhuyung, “dan berhadapan langsung dengan Kau-Tahu-Siapa, dia datang di tengah pengejaran lalu menghilang. Remus, dia bisa…”
“Terbang,” potong Harry. “Aku juga bertemu dengannya, dia mengejarku dan Hagrid.”
“Jadi itu alasannya dia menghilang, untuk mengejarmu!” kata Kingsley. “Aku tidak tahu mengapa dia tiba-tiba pergi. Tapi mengapa dia tiba-tiba mengubah target?”
“Harry bersikap terlalu baik pada Stan Shunpike,” kata Lupin.
“Stan?” ulang Hermione. “Tapi, aku kira dia ada di Azkaban.”
Kingsley tertawa suram.
“Hermione, telah terjadi pelarian besar-besaran yang tidak diberitakan oleh Kementrian. Tudung Traver terlepas saat aku melawannya, dan dia seharusnya ada di Azkaban juga. Apa yang terjadi padamu Remus? Di mana George?”
“Dia kehilangan salah satu telinganya,” kata Lupin.
“Kehilangan apa?” ulang Hermione dengan nada tinggi.
“Hasil kerja Snape,” kata Lupin.
“Snape?” teriak Harry. “Kau tidak bilang…”
“Tudungnya terlepas saat pengejaran. Sectusempra memang sudah jadi spesialisasi Snape. Rasanya aku ingin membalasnya, tapi aku harus memegangi George di atas sapu setelah dia terluka, dia kehilangan begitu banyak darah.”
Mereka berempat terdiam saat menatap ke langit. Tidak ada tanda apa pun di sana. Hanya bintang yang tidak berkedip dan tampak sama. Di mana Ron? Di mana Fred dan Mr. Weasley? Di mana Bill, Fleur, Tonks, Mad-Eye, dan Mundungus?
“Harry, tolong aku!” kata Hagrid yang terjepit lagi di pintu. Lega saat harus melakukan sesuatu, Harry menarik Hagrid hingga terlepas dari pintu, lalu masuk ke dalam dapur dan terus ke ruang duduk, di mana Mrs. Weasley dan Ginny masih merawat George. Mrs. Weasley berhasil menghentikan pendarahan, dan di bawah sinar lampu Harry bisa melihat sebuah lubang, di mana seharusnya ada telinga George.
“Bagaimana keadaannya?”
Mrs. Weasley menoleh dan berkata, “Aku tidak dapat menumbuhkannya kembali, tidak bisa kalau hilang karena Ilmu Hitam. Tapi bisa saja lebih buruk… untung saja dia masih hidup.”
“Ya,” kata Harry. “Syukurlah.”
“Rasanya aku mendengar yang lain di halaman,” kata Ginny.
“Hermione dan Kingsley.”
“Syukurlah,” bisik Ginny. Mata mereka saling memandang. Ingin rasanya Harry memeluknya, bergantung padanya, ia bahkan tidak peduli ada Mrs. Weasley di sana, tapi sebelum Harry melakukan apa yang ia inginkan terdengar suara teriakan dari dapur.
“Akan kubuktikan diriku, Kingsley, tapi setelah aku melihat keadaan anakku. Sekarang minggir kalau kau tahu apa harus kau lakukan!”
Harry tidak pernah mendengar Mr. Weasley berteriak sebelumnya. Ia menerobos masuk ke ruang duduk. Kepalanya yang botak dipenuhi keringat dan kacamatanya miring. Fred berdiri di belakangnya. Keduanya tampak pucat tapi tidak terluka.
“Arthur!” isak Mrs. Weasley. “Oh, syukurlah!”
“Bagaimana keadaannya?”
Mr. Weasley langsung berlutut di sebelah George. Untuk pertama kalinya Harry melihat Fred kehilangan kata-kata. Ia berdiri di belakang sofa melihat luka kembarannya dan sepertinya tak percaya akan apa yang ia lihat.
Mungkin karena mendengar suara kedatangan Fred dan ayahnya, George mulai sadar.
“Bagaimana perasaanmu, Georgie?” tanya Mrs. Weasley.
George memegang sisi kepalanya.
“Seperti seorang malaikat,” gumamnya.
“Ada apa dengannya?” teriak Fred ketakutan. “Apakah otaknya juga terganggu?”
“Seperti seorang malaikat,” ulang George sambil menatap saudaranya. “Kau tahu… aku holy (suci). Holey (berlubang)*, Fred, ngerti?”
Suara isakan Mrs. Wealey semakin keras. Wajah pucat Fred mulai berwarna.
“Menyedihkan!” kata Fred pada George. “Menyedihkan! Dari begitu banyak humor tentang telinga di dunia ini, kau pilih holey?”
“Ah, menyebalkan,” George tersenyum pada ibunya yang sedang menangis. “Sekarang kau bisa membedakan kami, Bu.”
George memerhatikan sekelilingnya.
“Hai Harry! Kau Harry, kan?”
“Ya,” kata Harry sambil mendekat ke sofa.
“Paling tidak, kami bisa membantumu,” kata George. “Mengapa Ron dan Bill tidak ada di sini dan menangisi aku?”
“Mereka belum kembali, George,” kata Mrs. Weasley. Senyum George langsung menghilang. Harry memandang Ginny dan memintanya untuk menemaninya ke halaman belakang. Saat mereka berjalan melewati dapur, Ginny berbicara perlahan, “Ron dan Tonks harusnya akan datang sebentar lagi. Jarak mereka tidak terlalu jauh. Rumah bibi Muriel tidak jauh dari sini.”
Harry diam saja. Dia berusaha untuk tidak menunjukkan rasa takutnya sejak ia tiba di the Burrow. Tapi kini rasa takut itu menyelimutinya, merambati kulitnya, menyakiti dadanya, menyumbat tenggorokannya. Saat mereka keluar di halaman belakang yang gelap, Ginny meraih tangannya.
Kingsley berjalan berputar-putar, berkali-kali melihat ke langit. Mengingatkan Harry pada paman Vernon yang juga suka melakukannya di ruang tamu berjuta tahun lalu. Hagrid, Hermione, dan Lupin berdiri berjajar dalam diam, melihat ke atas. Tak seorang pun sadar saat Harry dan Ginny bergabung.
Semenit terasa seperti bertahun-tahun. Bahkan hembusan angin paling ringan yang menyentuh semak dan pohon membuat mereka terlonjak dan mencari-cari dari mana gerakan itu berasal. Berharap anggota Orde akan muncul dari balik dedaunan.
Lalu sesuatu yang terbang di atas mereka turun menuju tanah.
“Itu mereka!” teriak Hermione.
Tonks mendarat. “Remus!” teriak Tonks yang terhuyung turun dari sapunya dan jatuh dalam pelukan Lupin. Wajah Lupin berubah kaku dan pucat dan tampak tidak bisa berbicara. Ron tersandung ke arah Harry dan Herminone.
“Kalian baik-baik saja,” kata Ron yang langsung dipeluk erat oleh Hermione.
“Aku tak apa-apa,” kata Ron sambil menepuk-nepuk punggung Hermione. “Aku baik-baik saja.”
“Ron hebat,” kata Tonks hangat sambil melepaskan diri dari pegangan Lupin. “Luar biasa. Memingsankan seorang Pelahap Maut, tepat di kepala, dan saat kau membidik target bergerak dari sapu yang sedang terbang…”
“Kau melakukannya?” kata Hermoine menatap Ron, tangannya masih dikalungkan di leher Ron.
“Selalu dengan nada kaget,” katanya sedikit marah, mencoba melepaskan diri dari tangan Hermione. “Apa kami yang terakhir?”
“Tidak,” kata Ginny, “kami masih menunggu Bill, Fleur, Mad-Eye, dan Mundungus. Aku akan bilang pada ayah dan ibu kalau kau baik-baik saja.”
Ginny berlari masuk. “Apa yang menahanmu? Apa yang terjadi?” suara Lupin bernada sedikit marah.
“Bellatrix,” kata Tonks. “Dia begitu menginginkanku seperti dia menginginkan Harry, Remus. Dia berusaha untuk membunuhku. Aku ingin membalasnya, aku berhutang pada Bellatrix. Tapi kami berhasil melukai Rodolphus… saat kami tiba di rumah bibi Ron, Muriel, kami ketinggalan Portkey. Dia begitu marah pada kami…”
Tampak sebuah otot muncul di rahang Lupin. Ia mengangguk tapi tidak bisa berkata apa-apa.
“Jadi, apa yang terjadi pada kalian?” tanya Tonks pada Harry, Hermione, dan Kingsley.
Mereka menceritakan kembali cerita masing-masing. Namun ketidakadaan Bill, Fleur, Mad-Eye, dan Mundungus membuat mereka makin merasa khawatir.
“Aku harus kembali ke Downing Street. Seharusnya aku tiba di sana satu jam yang lalu,” kata Kingsley setelah menatap langit untuk terakhir kalinya. “Beritahu aku bila mereka sudah kembali.”
Lupin mengangguk. Kingsley melambaikan tangannya dan berjalan di kegelapan menuju pagar. Lalu Harry mendengar suara pop saat Kingsley ber-Disapparate di luar the Burrow.
Mr. dan Mrs. Weasley keluar dari rumah diikuti Ginny di belakang mereka. Mereka langsung memeluk Ron lalu beralih pada Lupin dan Tonks.
“Terima kasih,” kata Mrs. Weasley, “sudah menjaga anak-anak kami.”
“Jangan begitu, Molly,” kata Tonks.
“Bagaimana George?” tanya Lupin.
“Ada apa dengannya?” tanya Ron.
“Dia kehilangan…”
Kalimat Mrs. Weasley tak terselesaikan saat terdengar suara tangisan. Seekor Thestral muncul dan mendarat beberapa meter dari mereka. Bill dan Fleur turun, agak kacau tapi tidak terluka.
Mrs. Weasley berlari mendekati mereka tapi Bill tidak membalas pelukan ibunya. Ia menatap lurus-lurus ke mata ayahnya dan berkata, “Mad-Eye meninggal.”
Tak seorang pun berbicara. Tak seorang pun bergerak. Harry merasa sesuatu dari dirinya sedang jatuh, jatuh dalam ke bumi, meninggalkan dirinya untuk selamanya. “Kami melihatnya,” kata Bill. Fleur mengangguk, air matanya berkilauan tertimpa cahaya lampu dari dapur. “Terjadi begitu saja. Mad-Eye dan Dung ada di sebelah kami, mereka juga mengarah ke utara. Voldemort – dia bisa terbang – dia langsung mengejar mereka. Dung panik, aku mendengarnya berteriak-teriak, Mad-Eye mencoba menyuruhnya diam, tapi dia tetap ber-Disapparate. Kutukan Voldemort tepat mengenai wajah Mad-Eye, dia terjatuh dari sapunya dan kami tidak bisa menolongnya. Kami sendiri dikejar enam Pelahap Maut…”
Bill berhenti berbicara.
“Jelas kalian tidak bisa menolongnya,” kata Lupin.
Mereka berdiri sambil memandang satu sama lain. Harry tidak paham. Mad-Eye meninggal. Tidak mungkin… Mad-Eye yang begitu tangguh, begitu berani, yang selalu bisa bertahan hidup…
Semuanya mengerti, tanpa seorang pun yang mengatakannya, tak ada gunanya lagi menunggu di halaman belakang. Dalam diam, mereka mengikuti tuan dan Mrs. Weasley masuk ke the Burrow, langsung ke ruang duduk, di sana Fred dan George sedang bercanda.
“Ada apa?” tanya Fred memerhatikan wajah mereka yang baru masuk. “Apa yang terjadi? Siapa yang…”
“Mad-eye,” kata tuan Weasley, “meninggal.”
Senyum di wajah si kembar hilang berganti dengan rupa terkejut. Sepertinya tak seorang pun tahu apa yang harus mereka lakukan. Tonks menangis dalam diam di balik saputangannya. Harry tahu, Tonks dekat dengan Mad-Eye, ia murid kesayangan Mad-Eye di Kementrian Sihir. Hagrid yang duduk di lantai di pojok ruangan dan menghabiskan paling banyak tempat, sedang mengusap matanya dengan saputangan seukuran taplak.
Bill berjalan menuju lemari dan mengeluarkan gelas dan sebotol Firewhisky.
“Ini,” katanya, dan dengan ayunan tongkatnya tiga belas gelas yang telah terisi yang terbang mendekati tiap orang yang ada di ruangan. “Untuk Mad-Eye.”
“Mad-Eye,” kata semua orang dan meminumnya.
“Mad-Eye,” kata Hagrid, terlambat, terdengar isakkannya.
Firewhisky membasahi tenggorokan Harry. Membuatnya terasa terbakar, rasa kebas dan ketidakpercayaannya menghilang, memberinya semangat keberanian.
“Jadi Mundungus menghilang?” kata Lupin yang langsung mengosongkan gelasnya sekali teguk.
Keadaan langsung berubah. Tiap orang tampak waspada, melihat Lupin, menunggu ia melanjutkan. Tiba-tiba Harry takut akan apa yang akan didengarnya.
“Aku tahu apa yang kaupikirkan,” kata Bill, “aku juga memikirkan hal yang sama sepanjang perjalanan kemari, karena sepertinya Pelahap Maut sedang menunggui kita, kan? Tapi Mundungus tidak mungkin mengkhianati kita. Pelahap Maut tidak tahu akan ada tujuh orang Harry, mereka tampak kebingungan saat kita baru saja berangkat. Dan hanya untuk mengingatkan, adalah Mundungus yang mengajukan ide gila ini. Kalau dia membocorkannya, mengapa dia tidak langsung menceritakan keseluruhan rencana? Kurasa Dung panik, hanya itu. Dia tidak ingin jadi yang pertama diserang, tapi Mad-Eye membawanya, dan Kau-Tahu-Siapa langsung menyerang mereka. Itu sudah cukup membuat seseorang menjadi panik.”
“Kau-Tahu-Siapa bereaksi seperti perkiraan Mad-Eye,” isak Tonks. “Mad-Eye bilang bahwa Kau-Tahu-Siapa akan mengira bahwa Harry yang asli akan dijaga oleh Auror yang paling berpengalaman. Dia langsung mengejar Mad-Eye, tapi begitu Mundungus menghilang, dia langsung mengincar Kingsley.”
“Benar,” potong Fleur, “tapi itu tidak menjelaskan bagaimana mereka tahu kita akan memindahkan “’Arry malam ini, kan? Seseorang telah sembrono. Seseorang telah memberitahukan tanggal pemindahan pada orang luar. “’Anya itu penjelasan yang ada, bagaimana mereka tahu tanggal peminda”an tapi tidak tahu keseluru”an rencana.”
Fleur memandang ke penjuru ruangan, terlihat sisa air mata membekas di wajahnya yang cantik, ia menantang bila ada yang tak sependapat. Tak seorang pun. Suara yang terdengar hanya isakkan Hagrid. Harry melihat Hagrid, yang sudah membahayakan diri untuk menyelamatkan Harry. Hagrid yang ia sayang, yang ia percaya, yang dengan mudah ditipu dan telah menukarkan informasi penting pada Voldemort dengan sebutir telur naga…
“Tidak,” kata Harry keras, dan semuanya menoleh padanya, terkejut. Sepertinya Firewhisky telah memperbesar suaranya. “Maksudku… bila seseorang melakukan kesalahan,” lanjut Harry, “dan tanpa sengaja memberitahukannya pada orang lain, aku tahu mereka tidak bermaksud seperti itu. Itu bukan kesalahan mereka,” ulang Harry, sudah dengan suaranya yang biasa. “Kita harus percaya satu sama lain. Aku percaya pada kalian semua. Aku yakin tak seorang pun di ruangan ini yang akan menyerahkanku pada Voldemort.”
Tak ada yang menjawab. Semua tetap melihat Harry. Harry merasa panas, ia meminum Firewhiskynya sedikit. Lalu ia teringat Mad-Eye. Mad-Eye yang selalu mengomentari kebiasaan Dumbledore yang selalu percaya pada orang lain.
“Bagus sekali, Harry,” kata Fred.
“Ya, benar-benar bagus,” imbuh George sambil menatap Fred.
Lupin menatap Harry dengan sebuah ekspresi aneh. Menatapnya penuh rasa kasihan, atau sayang.
“Kau pikir aku idiot,” tantang Harry.
“Tidak. Kupikir kau seperti James, “yang menganggap bahwa mengkhianati teman adalah aib paling memalukan.”
Harry tahu ke mana arahnya. Ayahnya pernah dikhianati oleh temannya sendiri, Peter Pettigrew. Entah mengapa tiba-tiba Harry merasa marah. Tapi Lupin sudah menoleh, meletakkan gelasnya, dan berbicara pada Bill, “Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Aku bisa meminta Kingsley, kalau kau…”
“Tidak,” kata Bill, “akan ku lakukan.”
“Mau ke mana?” kata Tonks dan Fleur bersamaan.
“Mayat Mad-Eye,” kata Lupin, “kami harus mengambilnya.”
“Tidak bisakah kalian…” Mrs. Weasley memohon pada Bill.
“Menunggu?” kata Bill. “Tidak, kecuali bila kau ingin Pelahap Maut menemukannya lebih dulu.”
Semuanya diam. Tiap orang berdiri saat Lupin dan Bill berpamitan.
Setiap orang kembali duduk di kursi masing-masing kecuali Harry, yang tetap berdiri.
“Aku harus pergi,” kata Harry.
Sepuluh pasang mata memandanginya.
“Jangan bodoh, Harry,” kata Mrs. Weasley. “Apa yang kau bicarakan?”
“Aku tidak bisa tinggal di sini.”
Harry menggosok dahinya. Bekas lukanya terasa menusuk lagi. Rasanya tak pernah sesakit ini dalam setahun terakhir.
“Kalian dalam bahaya bila aku tetap tinggal di sini. Aku tidak ingin…”
“Jangan bersikap bodoh, kalau begitu!” kata Mrs. Weasley. “Tujuan utama seluruh rencana malam ini adalah untuk membawamu ke sini dalam keadaan hidup. Dan untung saja berhasil. Bahkan Fleur sudah setuju untuk menikah di sini daripada di Perancis. Semua sudah diatur agar semua orang bisa berkumpul di sini dan menjagamu.”
Mrs. Weasley tidak mengerti. Ia bahkan membuat Harry merasa lebih buruk. Bukan lebih baik.
“Bila Voldemort tahu aku ada di sini…”
“Mengapa dia harus tahu?” tanya Mrs. Weasley.
“Kau mungkin saja di salah satu dari selusin rumah perlindungan lain, Harry,” kata tuan Weasley. “Kau-Tahu-Siapa tidak akan tahu di mana kau akan berada.”
“Bukan itu yang aku khawatirkan!” kata Harry.
“Kami tahu,” kata tuan Weasley tenang, “tapi seluruh usaha kami malam ini jadi sia-sia bila kau pergi.”
“Kau tidak akan pergi ke mana-mana,” geram Hagrid. “Ya ampun, Harry, setelah semua hal yang kita lalui malam ini.”
“Yah, bagaimana dengan telingaku?” kata George sambil menaikkan tubuhnya di atas bantal.
“Aku tahu, tapi…”
“Mad-Eye tidak akan…”
“AKU TAHU!” teriak Harry.
Ia merasa semua bersekongkol untuk melawannya. Mereka pikir Harry tidak tahu apa yang telah mereka lakukan untuknya. Apa mereka tidak mengerti justru karena itulah Harry ingin pergi, sebelum mereka lebih menderita demi Harry? Ada kecanggungan panjang di antara mereka. Bekas luka Harry semakin menusuk dan menyakitinya. Kesunyian itu akhirnya dipecah oleh Mrs. Weasley.
“Di mana Hedwig, Harry?” bujuknya, “kita bisa membawanya bersama Pigwidgeon dan memberinya makan.”
Rasanya isi perutnya mengepal menjadi satu. Ia tidak bisa menceritakannya. Ia menghabiskan Firewhiskynya menghindar dari menjawab pertanyaan. “Tunggu hingga hal itu muncul lagi, Harry,” kata Hagrid. “Lakukan lagi nanti saat kau berhadapan dengan Kau-Tahu-Siapa!”
“Itu bukan aku!” kata Harry. “Itu tongkatku. Tongkatku melakukannya sendiri.”
Setelah beberapa saat, Hermione berkata lembut, “Tapi tidak mungkin, Harry. Mungkin maksudmu, kau melakukan sihir tanpa kau bermaksud begitu, kau bereaksi sesuai nalurimu.”
“Bukan,” kata Harry, “saat itu sepeda motornya sedang jatuh, dan aku tidak tahu Voldemort ada di mana, tapi tongkatku bergerak sendiri dan menembakkan mantra yang bahkan aku tidak kenal. Aku tidak pernah membuat pancaran api keemasan sebelumnya.”
“Terkadang,” kata tuan Weasley, “saat kau berada dalam keadaan terpojok, kau dapat menciptakan sihir yang bahkan tidak bisa kau bayangkan. Biasanya hal itu terjadi pada anak-anak, bahkan sebelum mereka…”
“Bukan itu,” geram Harry dengan giginya terkatup. Bekas lukanya terasa terbakar. Ia merasa marah dan tertekan. Dia benci akan gagasan bahwa ia memiliki kekuatan yang dapat menandingi Voldemort.
Tak ada yang berbicara. Harry tahu tidak ada yang percaya padanya. Sekarang ia memikirkannya, ia tidak pernah mendengar bahwa tongkat bisa menghasilkan sihir sendiri.
Bekas lukanya benar-benar menyakitkan. Dia berusaha keras agar tidak mengerang keras-keras. Sambill bergumam tentang udara segar, Harry meletakkan gelasnya dan meninggalkan ruangan.
Saat ia berjalan di halaman gelap, Thestral yang besar melihatnya, mengepakkan sayapnya yang seperti sayap kelelawar, kemudian melanjutkan merumput. Harry berhenti di dekat pagar, melihat ke arah tanaman yang tumbuh liar. Ia menggosok dahinya yang kesakitan. Ia sedang memikirkan Dumbledore.
Dumbledore pasti akan memercayainya, ia tahu itu. Dumbledore tentu tahu bagaimana dan mengapa tongkatnya bereaksi sendiri, karena Dumbledore selalu tahu jawabannya. Dumbledore juga tahu tentang tongkatnya, bagaimana ia menjelaskan tentang hubungan antara tongkatnya dan tongkat Voldemort. Tapi Dumbledore, seperti Mad-Eye, Sirius, orang tuanya, dan burung hantunya yang malang, telah pergi sehingga Harry tidak bisa berbicara padanya lagi. Ia merasa tenggorokannya terbakar dan itu tidak ada hubungannya dengan Firewhisky.
Lalu, rasa sakit di bekas lukanya memuncak. Saat ia memegangi dahinya dan menutup matanya, ia mendengar suara teriakan di dalam kepalanya.
“Kau bilang masalahnya akan selesai bila aku menggunakan tongkat yang berbeda!” Lalu dalam pikirannya ia melihat sebuah gambaran tentang seorang pria tua kurus berbaring di atas kain kumal di lantai batu. Ia berteriak ketakutan. Berteriak karena rasa sakit yang luar biasa.
“Jangan! Jangan! Aku mohon, aku mohon…”
“Kau berbohong pada Lord Voldemort, Ollivander!”
“Tidak… aku tidak…”
“Sepertinya kau ingin membantu Potter, membantunya melarikan diri!”
“Sumpah, aku tidak… setahuku dengan tongkat yang berbeda…”
“Jelaskan yang terjadi, kalau begitu. Tongkat Lucius hancur begitu saja!”
“Aku tidak tahu… hubungan itu… hanya terjadi… antara kedua tongkat…”
“Pembohong!”
“Tolong… aku mohon…”
Lalu Harry melihat sebuah tangan putih mengangkat tongkat dan merasakan kemarahan Voldemort yang luar biasa. Lalu ia melihat pria tua yang lemah itu menggeliat-geliat menahan sakit…
“Harry?”
Semua berhenti secepat saat tiba. Harry berdiri gemetar dalam gelap. Tangannya mencengkeram pagar. Jantungnya berdetak kencang. Bekas lukanya masih terasa nyeri. Butuh beberapa saat sebelum ia menyadari bahwa Ron dan Hermione ada di sampingnya. “Harry, masuklah ke dalam rumah,” bisik Hermione. “Kau sudah tidak berpikir untuk pergi, kan?”
“Kau harus tinggal, sobat,” kata Ron sambil menepuk punggung Harry. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Hermione yang sudah cukup dekat sehingga bisa melihat wajah Harry. “Kau kelihatan kacau!”
“Mungkin,” kata Harry, “tapi aku masih lebih baik daripada Ollivander…”
Setelah Harry selesai menceritakan apa yang ia lihat, Ron melihatnya terkejut ngeri dan Hermione benar-benar ketakutan.
“Tapi seharusnya hal itu berhenti! Bekas lukamu – seharusnya ini tidak terjadi lagi! Tidak seharusnya kau membuka hubungan itu lagi – Dumbledore ingin kau menutup pikiranmu!”
Saat Harry tidak menjawab, Hermione menarik tangan Harry.
“Harry, dia sudah menguasai Kementrian, koran, dan separuh dunia sihir! Jangan biarkan dia mengambil alih pikiranmu juga!”
================= * Holy dan Holey memiliki cara pengucapan yang sama.
|